TANGISAN MATA BUNDA
Puisi Monika Sebentina
Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku
Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari harapan baru lagi bagi anak mu
Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku
Dan yang selalu kau berkata pada ku
Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu
aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku
Senin, 27 Mei 2013
puisi doa untuk ibu
DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani
Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani
DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa
Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun
Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku
Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada
Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu
Puisi Mutia Fitriyani
Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani
DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa
Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun
Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku
Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada
Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu
puisi untuk ibu
Malaikat Di Dunia
By : Nanda LA Putra
Walau hari ini bukan hari ibu
Tetap kan ku ucap kata
I LOVE YOU MAH
Karena engkau pelita dalam kegelapan ku
Dan karna engkaui malaikat ku di dunia ini
Kasih mu,cinta mu,pelukan mu,dekapan mu
Bahkan kemarah,an mu!!!
Itu semua unt kebaikan ku
I LOVE YOU MAH
Aku sayang mama
Sampai Kapanpun....
By : Nanda LA Putra
Walau hari ini bukan hari ibu
Tetap kan ku ucap kata
I LOVE YOU MAH
Karena engkau pelita dalam kegelapan ku
Dan karna engkaui malaikat ku di dunia ini
Kasih mu,cinta mu,pelukan mu,dekapan mu
Bahkan kemarah,an mu!!!
Itu semua unt kebaikan ku
I LOVE YOU MAH
Aku sayang mama
Sampai Kapanpun....
Jumat, 24 Mei 2013
cerpen puisi terakhir
Dari
kecil dia sudah terbiasa ditinggal oleh ibunya ke luar kota, semenjak
adanya pertengkaran di rumahnya itu, dia memang berasal dari keluarga
yang tidak mampu dia adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara, namun kedua
orang tuanya sangat ingin melihat anaknya sukses yah walaupun untuk
biaya sekolahnya sang kakak harus berhenti sekolah dan hanya sampai
kelas 2 SMA, sang kakak bekerja di kota untuk membiayai keluarganya,
walau sangat di sayangkan sang kakak keluar namun apalah daya ibu bapak
nya yang tak mampu membiayai sekolah sang kakak, dia hanya bisa menangis
melihat sang kakak pergi ke kota meninggalkan mimpinya untuk menjadi
orang yang berpendidikan tinggi.
Saat
dia duduk di bangku SMP kelas 2 dia berusaha belajar keras untuk bisa
memberikan kado terindah untuk keluarganya yaitu berupa prestasi , dia
ingin sekali menjadi juara dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
sekolahnya.
Berbagai
masalah keluarga sering muncul yang membuatnya semakin sedih melihat
kedua orang tuanya selalu bertengkar mempermasalahkan keuangan bagaimana
buat makan besok, uang bangunan sekolah ku, semua itu membuat mereka
pusing, ayah yola hanyalah seorang petani yang selalu di remehkan oleh
saudara-saudaranya yang cukup mampu.
Dengan
kerja kerasnya itu ahirnya yola bisa meraih mimpinya itu, dia bisa
menjadi juara dan mendapat beasiswa unuk melanjutkan sekolah, yola
memang anak yang cukup panadai dia selalu blajar untuk bisa mendapatkan
prestasi yang bagus di sekolah. Hal yang paling terindah bagi yola
hanyalah bisa menjadi juara menjadi nomor 1 sehingga ia tak pernah
mempunyai pacar, bukan dia tak mau punya pacar namun keluarganya
melarang untuk dekat dengan lelaki sehinga dia merasa takut untuk
berpacaran, dia gadis yang sangat polos.
kehidupan
yola mulai berkecukupan setelah 3 tahun ka dini bekerja di kota dan
membiayai kebutuhan yola semenjak SMP sampai SMA dan keluarganya di
kampung. Yola sangat menyayangi kakaknya itu dia bertekad untuk bisa
membanggakan mereka dengan prestasinya. Dan perasaan bahagia yang tak
terkira saat yola juga bisa menjadi juara di SMA. Keluarganya sangat
bangga dengan prestasinya itu Semua piagam penghargaan di pajang di
kamarnya.
KULIAH,
menjadi keinginan terbesarnya, dengan mengambil jurusan sastra dia
harap bisa menjadi seorang penulis yang bisa menuangkan semua derita
hatinya. Namun jika untuk kuliah keluarganya tak sanggup untuk
membiayai.
“tak usah kuliah nak, bapak mu ini tak punya uang untuk membiayaimu kuliah”
“tapi
pak, yola ingin menjadi orang. kalau yola kuliah itu bisa mengangkat
derajat keluarga kita, takan ada lagi orang yang berani menghina kelurga
kita karena tak punya apa-apa”
“iyah,
tapi bagaimana dengan biayanya, bapak dan ibu mu ini tak punya uang,
untuk makan saja mungkin cukup, orang kakak mu juga gak kuliah
sekolahnya aja liren di tengah jalan memangnya kamu gak kasihan sama
kakakmu”
“ bapak, justru ka dini yang mendorong yola untuk kuliah kakak yang nanti akan membiayai aku kuliah”
“ memangnya kamu ini mau jadi apa to ndo?”
“ya
pokok nya yola ingin membahagiakan bapak, ibu dan semuanya” “ya sudah,
terserah kamu ndo tapi bapak gak bisa kasih apa-apa, bapak dan ibu
hanya bisa mendo’akan kamu disana, dan bapak pesen jangan pacaran kalau
pacaran mendingan keluar saja kuliahnya soalnya nanti bisa mengganggu
kuliah kamu”
“iyah pak. Yola selalu ingat pesan itu”
Perjalan hidup yang begitu panajang, dia hanya di temani karya-karyanya.
KESEPIAN,,
tentulah dia rasakan, semua temannya adalah perempuan tak ada
laki-laki yang mau menjadi pacarnya, bukan karena dia tak cantik tetapi
karena kepribadianya yang tertutup sekali dengan pria. Banyak sekali
yang menyukainya namun mereka minder untuk mendekatinya, dia seorang
perempuan yang yang memiliki wibawa.
Jauh
di lubuk hatinya ternyata dia memndam perasaan kepada seorang pria,
namun tak mungkin baginya untuk bisa memilikinya bibirnya tak mungkin
berucap. Puisi yang menyayat hati yang selalu dia buat kala hatinya
gundah. Sahabat-sahabatnya pun tak pernah tahu siapa pria yang dimaksud
yola itu dia tak pernah cerita, itu adalah rahasia cintanya.
dari sebelum lulus kuliah sudah banyak karyanya yang di terbitkan. Novel dan puisi-puisinya banyak disukai para remaja.
SENDIRI,,
itu sudah biasa baginya tak mengapa tak pernah merasakn indahnya jatuh
cinta asal dia bisa meraih prestasi yang dia inginkan itulah Yang selalu
tertanam di benaknya.
Kini
kehidupan keluarganya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya hasil dari
karya-karya nya, kini tak ada lagi yang menghina kelurganya, bahkan
saudara-saudara dari keluarga bapak nya itu kini malah berbalik mereka
kini tak punya apa-apa sama seperti keadaan keluarganya dulu bahkan jauh
lebih buruk.
Pagi
itu sekitar pukul 07.0 ibunya mengetuk pintu kamar anaknya itu, namun
tak ada jawaban, ah mungkin masih tidur ucap sang ibu.
Pukul
09.0 sang ibu pun kembali mengetuk pintu kamar anaknya, namun sama tak
ada jawaban sang ibu pun membuka kamar yola dan melihat anaknya itu
masih ada di depan komputer. Sang ibu pun mendekati anaknya sambil
mengusap-ngusap rambut anaknya.
“yola,, ayo bangun sudah siang, ibu sudah bikin sarapan ayo kita makan bareng”
Namun sang ibu merasa aneh karena anaknya itu tak juga bangun.
Sang ibu langsung panik dan memanggil sang bapak.
“pak,, bapak kesini yola gak bangun-bangun”
“ya biarin saja lah bu mungkin kecapean”
“cepetan pak, yola pingsan,”
“apa? iya,,iya sebentar”
bapaknya langsung menghampiri kamar anaknya itu dan langsung memanggil dokter.
Sekeluarga
sangat panik karena tak biasanya yola pingsan, dokter pun mengatakan
kondisi yola yang sudah tak bernayawa lagi di akibatkan liver nya yang
sudah parah.
Bapak,
ibu, dan adiknya mereka sangat terkejut mendengar keterangan dari sang
dokter. Ibunya langsung menghampiri anaknya yang sudah tiada yang kini
terbaring di tempat tidur sambil menagis. Sang bapak pun tak kuasa
menahan kesedihan itu dia menagis di ahadapan putrinya yang sudah tiada,
begitu pula dengan sang adik yang menangis sambil menelepon kak dini
yang sedang berada di kota bahwa kakak keduanya telah meniggal dunia.
Kak dini langsung pulang dengan penuh kesedihan memdengar adiknya telah
meninggal. Semua keluarganya sungguh tak menyangka akan penyakit yola
itu karena dia tak pernah mengeluh sakit apapun.
Setelah
selesai pemakaman, kak dini memandangi kamar adiknya dengan deraian air
mata, dia menghampiri komputer yang masih menyala dikomputer itu
tertulis sebuah puisi yang merupakan pesan terakhir dari adiknya saat
sebelum yola meninngal. Ternyata adiknya itu sudah tahu bahwa hidupnya
tak lama lagi namun dia tak pernah mengatakan akan penyakitnya itu.
Semua keluarga dan sahabat-sahabatnya menangis saat membaca puisi itu.
Saat aku tersenyum aku bahagia
Saat aku sedih akupun masih tetap tersenyum
Tak pernah kuinginkan keadaan ini
Namun aku harus pergi jauh
Harapanku sudahlah terwujud
Menjadi seperti ini adalah yang aku inginkan
Sedih, bahagia ku curahkan disisni
Ku mohon Jangan tangisi saat aku pergi
Maaf untuk kalian yang ku tinggalkan
Meski aku telah pergi kenanglah aku
Tetaplah menjadi orang yang menyayangiku
Walaupun kini aku telah pergi
Diaond Adventure
“Angel, kamu jadi kan mau bertemu sepupu aku?” Tanya Nadya. Angel
sangat senang jika ia bermain bersama sepupunya Nadya. Soalnya Angel
suka kesepian di rumah.
“Okee,” ucap Angel sambil mengacungkan dua jempol.
Mereka pun sampai di sekolah. Angel dan Nadya harus naik turun tangga untuk mencapai ruang kelas mereka. Yaitu kelas 5A. Setelah 10 menit kemuadian, Angel dan Nadya sampai di ruang kelas mereka. Bel pun berbunyi.
Setelah 2 jam kemudian, Angel istirahat.
“Angel aku ke kantin ya” kata Nadya. Angel tidak menjawabnya. Ia terus melamun.
“DOR!” Nadya mengagetkan Angel. “Ada apa Nad?”
“Aku mau ke kantin mau ikut enggak?”
“Enggggg…”
“Kamu melamunin apa sih? Jangan-jangan kamu melamunin Rizky yang kemarin nabrak kamu sampai kamu mau ciuman kan?”
“NADYA!!! Enak ajah. Aku ngelamunin kotak yang kemarin aku temukan di sebelah meja belajarku. Ada 3 kotak berwarna Ungu, Biru, dan Kuning. Tapi, kata Mama harusnya di dalam kotak itu ada berlian. Kok enggak ada, nah kata Mamaku…” Nadya memotong ucapan Angel.
“Jangan ngehayal deh, ya udah kita ke kantin yuks” Nadya menarik tangan Angel.
“Tapi, kata Mamaku kita harus mencari seseorang yang menyukai warna kuning, kalau sudah kita akan berpetualang, dan kita akan menerima uang 1M untuk masing-masing ORANG!”
“HAH?!”
“Iya deh makanya kayanya kita harus tanya sepupu kamu deh Nad,”
“Yaa!”
Tak terasa bel pulang pun berbunyi. Angel tidak langsung pulang ke rumah, tetapi ke rumah Nadya. Karena kata Mama Angel, Angel harus pulang membawa 2 teman yang menyukai warna biru dan kuning. Ketika sampai di rumah Nadya…
“Chelsea sudah sampai sejak kapan?”
“Eh Nadya sudah dari satu jam yang lalu, siapa itu?” Sambil menunjuk ke arah Angel.
“Saya Angel. Sahabatnya Nadya”
“Saya Chelsea,”
“Chelsea, kamu suka warna apa?” Tanya Nadya.
“Semua warna aku suka. Tapi, yag paling ku suka, warna kuning. Emang ada apa Nad?”
“Chelsea, kita akan…” Omongan Angel terpotong oleh Nadya.
“Kita ngomong di kamar”
“Chelsea, kita akan mencari 3 berlian. Kaya berpetualang gitu, kita juga akan mendapatkan uang sebesar 1M rupiah. Gimana? Kamu mau ikut?” Tanya Angel dengan sungguh-sungguh.
“IYA!” Jawab Chelsea.
“Kita harus cepat-cepat nih!”
Ketika sampai di rumah Angel mereka semua masuk ke kamar Angel yang serba Biru. Seperti di langit.
“Angel, terus kita harus bagaimana?”
“Tenang, tenang Chel, kita buka kotak masing-masing sesuai dengan warna kesukaan sendiri. Sekarang kita buka. Satu… Dua… TIGA!!!”
“WAWWWWW” 5 detik kemudian mereka telah sampai di gerbang Diamond Land. Tiba-tiba, datang 2 orang manusia, hanya mereka memakai sayap.
“Mau apa kalian kemari?” Tanya salah satu seorang yang memakai sayap.
“Engggg, ka…ka…kamii…”
“TEMUI RATU!”
“Maaf yang mulia, kami menemui mereka bertiga di depan gerbang Diamond Land,”
“Terima kasih Tiger dan Tegar”
“Sama-sama yang mulia”
Angel, Chelsea, dan Nadya sedari tadi hanya memperhatikan foto anak yang seumuran seperti mereka.
“Suatu kehormatan. Ratu, siapakah anak dari foto-foto ini?” Tanya Angel memberanikan diri. Ratu pun menunduk.
“Saya mempunyai anak yang bernama Candy. Ia tertidur sejak 2 tahun yang lalu. Itu karena ia memakai 3 kalung berlian sekaligus,” Setetes air mata pun jatuh dari wajah Sang Ratu.
“Lalu peramal datang. Peramal berkata: ‘Nanti ada 3 orang anak akan datang. Mereka memiliki tanda bintang di bahu sebelah kanan. Mereka bertiga harus melepaskan puteriku dan memakai kalung yang membuat puteriku tertidur sangat lama”
Angel, Nadya, dan Chelsea melihat bahu sebelah kanan masing-masing.
“Tapi Ratu, kami memiliki tanda bintang itu” kata Angel.
“Tolong selamatkan puteriku,”
“Ta…ta…tapi…” Chelsea sedikit dongkol.
“Chel, Ngel, meningan kita turutin kemauan Ratu, aku iba kepada ratu,”
“Kalian bersedia?”
“YAA!”
“Silahkan masuk kedalam ruangan ini, tolong selamatkan puteriku,”
“Pasti,”
Angel, Chelsea, dan Nadya pun memasuki ruangan itu.
“WAW! Keren!” Kata Chelsea tiba-tiba.
“Itu puteri Candy” Angel berlari menuju puteri Candy. Di susul oleh Nadya dan Chelsea.
“Cantik banget” komentar Chelsea.
“Ayo kita ambil sesuai warna!” Angel menjelaskan. “Baik!” Jawab Nadya dan Chelsea serempak.
Setelah itu…
“Hoooaaii….” Putri Candy menguap.
“Kalian selamatkan aku?”
“Iya puteri,”
“Oh! Terima kasih! Terima kasih! Sebagai hadiahnya ambil ini!” Sambil memberikan tas yang lumayan besar.
“Apa ini?”
“Seperti kata-kata Mama kamu Angel,”
“UANG 1M?!” Angel masih tak percaya.
“Iya”
“Tuan puteri terima kasih, tuan puteri,” Angel, Nadya, dan Chelsea mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang. Mereka pun keluar dari kamar Puteri Candy dengan memakai kalung berlian.
“Terima kasih. Kalian boleh pulang. Sekali lagi terima kasih.”
Angel, Chelsea, dan Nadya hanya mengangguk.
“Jangan lupakan akuu yaa, Love you” kata-kata terakhir dari putri Candy.
“Too” jawab angel, chelsea, dan nadya.
5 detik kemudian…
“Angel, bagaimana petualangannya?” Tanya Mama Angel.
“Mama dari tadi menunggu di sini?”
“Iya donk,”
“Maaf tante, kami pulang dulu,”
“Nad, cepet aq laper” kata chelsea.
“Sudah-sudah mari kita makan dulu,” kata Mama Angel.
-TAMAT-
“Okee,” ucap Angel sambil mengacungkan dua jempol.
Mereka pun sampai di sekolah. Angel dan Nadya harus naik turun tangga untuk mencapai ruang kelas mereka. Yaitu kelas 5A. Setelah 10 menit kemuadian, Angel dan Nadya sampai di ruang kelas mereka. Bel pun berbunyi.
Setelah 2 jam kemudian, Angel istirahat.
“Angel aku ke kantin ya” kata Nadya. Angel tidak menjawabnya. Ia terus melamun.
“DOR!” Nadya mengagetkan Angel. “Ada apa Nad?”
“Aku mau ke kantin mau ikut enggak?”
“Enggggg…”
“Kamu melamunin apa sih? Jangan-jangan kamu melamunin Rizky yang kemarin nabrak kamu sampai kamu mau ciuman kan?”
“NADYA!!! Enak ajah. Aku ngelamunin kotak yang kemarin aku temukan di sebelah meja belajarku. Ada 3 kotak berwarna Ungu, Biru, dan Kuning. Tapi, kata Mama harusnya di dalam kotak itu ada berlian. Kok enggak ada, nah kata Mamaku…” Nadya memotong ucapan Angel.
“Jangan ngehayal deh, ya udah kita ke kantin yuks” Nadya menarik tangan Angel.
“Tapi, kata Mamaku kita harus mencari seseorang yang menyukai warna kuning, kalau sudah kita akan berpetualang, dan kita akan menerima uang 1M untuk masing-masing ORANG!”
“HAH?!”
“Iya deh makanya kayanya kita harus tanya sepupu kamu deh Nad,”
“Yaa!”
Tak terasa bel pulang pun berbunyi. Angel tidak langsung pulang ke rumah, tetapi ke rumah Nadya. Karena kata Mama Angel, Angel harus pulang membawa 2 teman yang menyukai warna biru dan kuning. Ketika sampai di rumah Nadya…
“Chelsea sudah sampai sejak kapan?”
“Eh Nadya sudah dari satu jam yang lalu, siapa itu?” Sambil menunjuk ke arah Angel.
“Saya Angel. Sahabatnya Nadya”
“Saya Chelsea,”
“Chelsea, kamu suka warna apa?” Tanya Nadya.
“Semua warna aku suka. Tapi, yag paling ku suka, warna kuning. Emang ada apa Nad?”
“Chelsea, kita akan…” Omongan Angel terpotong oleh Nadya.
“Kita ngomong di kamar”
“Chelsea, kita akan mencari 3 berlian. Kaya berpetualang gitu, kita juga akan mendapatkan uang sebesar 1M rupiah. Gimana? Kamu mau ikut?” Tanya Angel dengan sungguh-sungguh.
“IYA!” Jawab Chelsea.
“Kita harus cepat-cepat nih!”
Ketika sampai di rumah Angel mereka semua masuk ke kamar Angel yang serba Biru. Seperti di langit.
“Angel, terus kita harus bagaimana?”
“Tenang, tenang Chel, kita buka kotak masing-masing sesuai dengan warna kesukaan sendiri. Sekarang kita buka. Satu… Dua… TIGA!!!”
“WAWWWWW” 5 detik kemudian mereka telah sampai di gerbang Diamond Land. Tiba-tiba, datang 2 orang manusia, hanya mereka memakai sayap.
“Mau apa kalian kemari?” Tanya salah satu seorang yang memakai sayap.
“Engggg, ka…ka…kamii…”
“TEMUI RATU!”
“Maaf yang mulia, kami menemui mereka bertiga di depan gerbang Diamond Land,”
“Terima kasih Tiger dan Tegar”
“Sama-sama yang mulia”
Angel, Chelsea, dan Nadya sedari tadi hanya memperhatikan foto anak yang seumuran seperti mereka.
“Suatu kehormatan. Ratu, siapakah anak dari foto-foto ini?” Tanya Angel memberanikan diri. Ratu pun menunduk.
“Saya mempunyai anak yang bernama Candy. Ia tertidur sejak 2 tahun yang lalu. Itu karena ia memakai 3 kalung berlian sekaligus,” Setetes air mata pun jatuh dari wajah Sang Ratu.
“Lalu peramal datang. Peramal berkata: ‘Nanti ada 3 orang anak akan datang. Mereka memiliki tanda bintang di bahu sebelah kanan. Mereka bertiga harus melepaskan puteriku dan memakai kalung yang membuat puteriku tertidur sangat lama”
Angel, Nadya, dan Chelsea melihat bahu sebelah kanan masing-masing.
“Tapi Ratu, kami memiliki tanda bintang itu” kata Angel.
“Tolong selamatkan puteriku,”
“Ta…ta…tapi…” Chelsea sedikit dongkol.
“Chel, Ngel, meningan kita turutin kemauan Ratu, aku iba kepada ratu,”
“Kalian bersedia?”
“YAA!”
“Silahkan masuk kedalam ruangan ini, tolong selamatkan puteriku,”
“Pasti,”
Angel, Chelsea, dan Nadya pun memasuki ruangan itu.
“WAW! Keren!” Kata Chelsea tiba-tiba.
“Itu puteri Candy” Angel berlari menuju puteri Candy. Di susul oleh Nadya dan Chelsea.
“Cantik banget” komentar Chelsea.
“Ayo kita ambil sesuai warna!” Angel menjelaskan. “Baik!” Jawab Nadya dan Chelsea serempak.
Setelah itu…
“Hoooaaii….” Putri Candy menguap.
“Kalian selamatkan aku?”
“Iya puteri,”
“Oh! Terima kasih! Terima kasih! Sebagai hadiahnya ambil ini!” Sambil memberikan tas yang lumayan besar.
“Apa ini?”
“Seperti kata-kata Mama kamu Angel,”
“UANG 1M?!” Angel masih tak percaya.
“Iya”
“Tuan puteri terima kasih, tuan puteri,” Angel, Nadya, dan Chelsea mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang. Mereka pun keluar dari kamar Puteri Candy dengan memakai kalung berlian.
“Terima kasih. Kalian boleh pulang. Sekali lagi terima kasih.”
Angel, Chelsea, dan Nadya hanya mengangguk.
“Jangan lupakan akuu yaa, Love you” kata-kata terakhir dari putri Candy.
“Too” jawab angel, chelsea, dan nadya.
5 detik kemudian…
“Angel, bagaimana petualangannya?” Tanya Mama Angel.
“Mama dari tadi menunggu di sini?”
“Iya donk,”
“Maaf tante, kami pulang dulu,”
“Nad, cepet aq laper” kata chelsea.
“Sudah-sudah mari kita makan dulu,” kata Mama Angel.
-TAMAT-
selapis roti untuk kepergian ayah
Apakah aku masih hidup?. Ah, pasti aku masih hidup karena jika tidak pasti bukan disinilah tempatnya. Meski aku belum pernah melihatnya tapi aku yakin tempat ini bukanlah alam kubur, neraka apalagi surga. Ada bayangan hitam menghalangi pandanganku. Apakah itu malaikat maut? apakah ia akan menjemputku sekarang?. Apakah aku tak lagi diberi kesempatan?. Bayangan hitam itu semakin mendekat, menggenggam tanganku yang berhiaskan gelang identitas bertuliskan “Nura” nama kecilku. Genggaman tangan itu dingin seperti tak setetes pun darah mengalir padanya. Genggaman itu serasa membekukkan tanganku. Aku tak lagi bisa bergerak, aku tak bisa menghindar apalagi berlari. Bayangan itu mengenggam erat tanganku nyaris meremukkan tulang pergelangan tangan. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Tak ada satupun suara yang keluar selain “ah” dan “uh”. Seolah tenagaku telah raib. Aku kehilangan keseimbangan begitu melihat pemandangan dihadapanku.
Tubuhku bergetar hebat, takut sekali. Hingga kejutan keras merasuki tubuhku, hangat, serasa darah kembali mengalir. Bayangan hitam itu menghilang, telah berganti bayangan putih dokter dan para suster. Ada tiang kurus disampingku, menggantungkan tabung infus yang mendikte tetes demi tetes kehidupanku. Ternyata aku benar-benar masih hidup. Tak membutuhkan waktu lama sebelum suster memindahkanku ke ruang rawat. Berbagai wajah datang silih berganti. Tersenyum dan prihatin. Tapi aku tak lagi peduli, karena wajah yang kucari itu tak akan pernah ada, tak akan pernah bisa kulihat lagi. Terbersit perasaan menyesal, mengapa aku masih hidup?
Aku terbangun dan hari-hari itu telah berlalu sedemikian cepat, serasa hanya tertidur beberapa jam saja. Bunga dalam vas itu telah berganti rupa menjadi bunga yang lebih segar, ada yang menggantinya. Mungkin beginilah tradisinya, bunga diganti saat pasien kamar ini juga berganti?. Aku harus segera meninggalkan tempat memuakkan ini, meski setelah semua kejadian itu akan membuat keadaan di luar sana lebih memuakkan. Aku berjalan melintasi rutinitas yang mendadak terasa begitu asing bagiku. Tiba-tiba aku merasa menjadi salah seorang dari pemuda yang beratus-ratus tahun tertidur dalam gua lalu terbangun dan mendapati dunia telah sedemikian berubah. Apakah telah sedemikian lama aku tertidur?.
Batu nisan dihadapanku hangat tertimpa cahaya matahari pagi. Wajah yang kunanti itu telah terbenam disini, meninggalkanku dengan berbagai urusan dunia yang kini harus kuselesaikan sendiri. Ah, kita bahkan belum sempat saling mengucapkan salam perpisahan, kau hanya sempat membisikkan keinginan terakhirmu untukku. Meski aku tahu benar apa keinginanmu, keinginan yang rasanya sampai kapanpun tak akan pernah bisa kuwujudkan. Maafkan aku bu, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mencintai ayah seperti ibu mencintainya. Aku tak akan pernah bisa melakukan lebih dari yang kau lakukan untuknya. Aku tak akan bisa bersabar lebih dari kesabaranmu menghadapinya. Aku tak akan pernah bisa mencintainya lebih dari cintamu padanya.
Kau datang saat usiaku genap delapan tahun, hadiah yang terindah bagiku. Jarang sekali ada anak yang menerima hadiah seorang ayah di hari ulang tahunnya bukan. Sejak kecil aku selalu menanyakan kemana kau pergi, tapi Ibu selalu mengatakan bahwa kau pergi jauh untuk bekerja. Aku menerima saja. Tapi, hadiah itu tak seindah yang kubayangkan. Kau selalu menolak permintaanku untuk jalan-jalan di akhir pekan, bahkan hanya sekadar bermain dan menemaniku belajar pun, kau tak pernah ada. Kau selalu pergi setiap hari kecuali di akhir pekan, entah untuk alasan apa.
Akhir pekan itu akan selalu jadi hari yang istimewa untuk kami, untuk ibu tepatnya, karena hanya di akhir pekanlah kau akan datang. Seandainya kau tahu, Ibu selalu menyambut kedatanganmu dengan cara terbaik, meski ia tahu betapa kau tak akan pernah membalas apapun atas pengorbanannya. Sementara bagiku, akhir pekan hanyalah masa-masa sulit diantara sekian kebahagiaanku bersama Ibu.
Setiap akhir pekan Ibu akan pergi bekerja ke tempat sahabatnya dan menginap selama dua hari, kau tentu tak memberikan sepeser uangmu pada kami. Kau hanya datang sebagai parasit, menumpang dan menyulitkan. Aku harus bangun sepagi mungkin, menyiapkan air hangat untuk kau mandi, menyiapkan sarapan hingga makan siang dan makan malam. Maka selama dua hari itu menyisakan aku dan dirimu, dirumah sesak ini, akan selalu menjadi masa-masa penantian yang menegangkan, karena setiap kesalahan ada bayarannya sendiri. Seperti pagi itu. Kau terbangun lebih awal karena panci yang tak sengaja kujatuhkan, menimpa beberapa alat rumah tangga yang lain, mengusikmu. Kau tak pernah banyak bicara, hanya melayangkan tatapan dingin itu. Genggaman tanganmu yang kuat menggusurku, dan membiarkanku seharian terkunci di ruangan berukuran 1×2 m tanpa jendela dan lampu. Aku takut, sangat takut.
Sejak kecil aku tak bisa berada dalam kegelapan, kesesakan akan merasuk dan mencekik penuh kekuatan. Selama lebih dari 24 jam kau mengurungku. Aku berteriak memohon kepadamu sekuat yang kubisa tapi tak ada yang berubah, kegelapan itu tetap meliputiku. Saat itu aku berfikir mungkin aku akan segera meregang nyawa. Ah, kau ingin membunuhku secara perlahan. Dalam kegelapan itulah, pertama kalinya aku mengenal rasa benci dan dendam. Hingga sayup-sayup langkah tergesa itu terdengar. Perlahan pintu itu terbuka dan serasa oksigen membanjiri saluran pernafasanku, menenangkan.
Ibu datang dan memelukku, aku ingin memanggil namanya namun tak ada satupun yang keluar. Ibu menatap mataku, bibirnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu, namun tak ada yang kudengar. Angin serasa mati sehingga bunyipun tak bisa merambat. “Ibu?” aku merengek dalam hati. “Nura? kamu dengar ibu sayang?” aku tak mengerti. Ibu terus mengelus kedua telingaku. Aku tak bisa berbicara, aku tak bisa mendengar apapun. Air mata hangat membanjiri pipiku, kau berdiri tepat dibelakangan Ibu, dengan wajah yang tak pernah berubah. Selalu dingin. Aku membencinya, namun tak bisa mengatakan apa-apa.
Tapi, aku mencoba belajar memaafkan masa laluku sendiri. Entah siapa yang patut dipersalahkan dan harus bertanggungjawab atas masalah ini. Entah siapa harus memaafkan siapa. Tapi satu hal yang pasti, ibu selalu memintaku untuk belajar memaafkan. Belajar memaafkanmu jika dalam seminggu itu tak sekalipun kau pulang. Belajar memaafkanmu jika dengan sengaja tanganmu mengayunkan tamparan yang bagiku terasa lebih menyakitkan hati dibanding menyakitkan pipi ini. Belajar memaafkanmu jika sumpah serapah mengawal setiap aktivitasku. Bertahun-tahun aku bertahan dengan cara seperti ini, mungkin karena keyakinan akan cintaku sendiri.
Sering aku bertanya apakah kau tak lelah mempertanyakan kesungguhanku. Apakah kau tak pernah lelah mengujiku. Aku tak pernah membutuhkanmu untuk memberikanku apapun, bahkan sejumput dari kebahagiaanpun aku tak memerlukannya darimu. Toh, aku bahagia dengan caraku sendiri, bahagia dengan selalu belajar memaafkanmu. Aku hanya membutuhkan pengakuanmu. Pengakuanmu bahwa aku dan ibu ada, tapi kau selalu membutakan dirimu sendiri.
Penjara itu tak sedingin tatapan mata yang kau layangkan padaku. Dia mati. benar?” katanya dengan bahasa isyarat. Sejak peristiwa pengurungan itu, aku tak lagi bisa bicara dan mendengar. Lalu Ibu mengajariku menggunakan bahasa isyarat. Ibu juga mengajariku untuk terus memaafkan, ibu mengajariku untuk terus mencintai dan menjagamu. Tapi pertanyaan itu begitu menusuk tajam, menghancurkan pertahanan pertamaku, sekian lama aku berusaha untuk tak bersedih karenamu. Aku hanya mengangguk seolah semua yang terjadi adalah biasa saja. “Apa kau mau ikut dia? Mati.” tawamu meledak menggema diruangan sempit itu, Barangkali jika aku masih bisa mendengar, suara itu akan memekakkan telingaku. sekali lagi tenagaku serasa raib, aku terduduk dipojokkan. Aku harus segera pergi.
Fitta menahan tanganku, nampak tak yakin bahwa aku akan mengunjungimu lagi. Sudah seminggu ini aku berbagi tempat dengan Fitta, sahabatku di kampus dulu. Aku mengangguk tegas, aku harus melakukannya untuk Ibu. Saat pertama kau datang dalam kehidupan kami, Ibu mengajariku untuk membuat roti bakar. “Ayahmu sangat suka roti bakar selai stroberi buatan Ibu, jadi kau harus mulai belajar membuatnya supaya kau bisa menggantikan ibu kalau ibu sudah tak ada..” Saat itu aku merasa betapa ibu akan pergi jauh. Aku tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu saat aku harus benar-benar kehilangan Ibu, karena dia lah satu-satunya alasan aku bisa bertahan untuk mencintaimu.
“Kalau ayah menyukai roti bakar buatan Ibu, kenapa dia membenci kita bu?” tanyaku suatu ketika. Ia membelaiku penuh perhatian. “Jangan pernah kamu tanyakan mengapa ia membenci kita? dan mengapa kita harus mencintainya, jika dengan cara ini ibu bisa bertahan untuk mencintai ayahmu, maka kau pun pasti bisa” Terkadang aku merasa sangat takut, Ibu terlalu percaya diri bahwa aku bisa melakukan semua yang telah ia lakukan. Ibu terlalu percaya diri bahwa aku bisa menggantikan posisinya. “Kamu yakin mau pergi ra, biar saya ikut ya?” Aku menggeleng kuat, aku yakin diriku sendiri sudah cukup akan mengusik kenyamananmu. Aku pamit, membawa dua lapis roti bakar selai stroberi kesukaanmu.
Aku merasa seperti anak burung yang tersiram hujan. Kuyup dan mengkerut. Takut-takut aku berjalan. Inilah kali kedua aku membesukmu. Seorang penjaga mengantar dan mengawal pertemuanku denganmu, berbataskan jeruji besi yang dingin. Aku mengetuk sel besi dengan cincin murahan untuk memanggilmu yang terbaring di kasur. Kau menoleh juga. Aku menunjukkan roti bakar buatanku. Satu langkahmu berhasil menyurutkanku beberapa langkah. Ah, rasanya seperti berhadapan dengan harimau yang kelaparan. “Pulang!” sentakmu sambil mengibaskan tanganmu tanda menyuruhku untuk segera pergi, kau penuh kendali. Gentar. Tapi, tak mungkin, aku sudah sampai sejauh ini. Roti bakar buatanku? tak boleh sia-sia. Kau harus memakannya. “Heh? pulang!” sentakmu lagi. Aku mendekat dan menyodorkan roti dan beberapa buah jeruk. Kau tetap mengabaikanku. Tapi begitulah ibu, maka semua ini harus kulakukan. Kata ibu, inilah belajar mencintai dan menyayangimu. Ya, sekali lagi aku diajarkan untuk memaafkan perlakuanmu padaku. Tak apa..aku lebih pandai memaafkan daripada mencintai. Jadi, aku harus lebih banyak belajar. “Jangan pernah datang lagi.! dasar bisu! tuli!” cacinya. Rasanya hati ini sakit sekali melihatnya. Sudahlah, Ibu bilang ia tak pernah bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Lelah kaki ini melangkah pergi.
Meski begitu, semua berlalu bagai rutinitas yang tak akan terganti. Akhir pekan yang sama. Dapur yang sama. Alat pembuat roti bakar yang sama. Jalanan yang sama. Penjara dan penjaga yang sama. Sudah dua bulan berlalu sejak pertama kalinya aku menjengukmu, berarti ini akan jadi kali ke sembilan aku datang. Namun, belum ada yang berubah dalam hati ini. Setiap kaki ini menapak lantai penjara yang dingin, selalu saja mekanisme yang sama berulang. Hati ini mencoba mempersembahkan kasih sayang, lalu kau menjatuhkannya, aku akan sedih lalu aku akan belajar memaafkan. Tanpa benar-benar ada kasih sayang yang begitu tulus datang. Bagaimana bisa datang? jika setiap aku tertidur, maka mimpi itulah yang selalu hadir. Mimpi tentang hari-hari yang penuh ketidakpastian itu. Bagaimana bisa datang? jika setiap kaki ini melangkah ke dapur maka yang terasa adalah kaki-kaki yang rapuh menembus panas, hujan dan rela menunggu berlama-lama hanya demi mengulurkan tangan memberikan roti bakar stroberi kesukaanmu. Bagaimana bisa datang? jika setiap diri ini menunggu roti yang panas terbakar, maka yang hadir adalah perasaan kecewa, menumpuk dan terbakar, memenuhi hati dan berkembang menjadi rasa benci setiap kali melihat tanganmu terulur keluar jendela mobil dan melemparkan roti bakar itu ditikungan pertama setiap kepergianmu. Bagaimana bisa datang? jika setiap tangan ini bergerak mengoleskan selai stroberi kesukaanmu, yang terbayang hanyalah darah segar yang mengalir dari punggung ibu yang kau jadikan sasaran pisau terasah tajam. Kau memang pembunuh, dan aku harus mencintai dan menyayangi seorang pembunuh?. Ah ibu, kau benar-benar terlalu percaya diri meninggalkanku untuk urusan ini.
“Hari ini besuk lagi? aku heran mengapa kau belum juga menyerah padahal dia selalu melarangmu datang?” Fitta masih selalu protes, sekali pernah ia ikut membesukmu, dan kau mengamuk hebat mengusir kami. Sejak saat itu ia kapok memaksa untuk menemaniku. Aku mengangguk tegas. Ya, mungkin aku telah sedemikian bodoh mau melakukan ini. Ibu sudah tak ada, tak ada seorangpun yang akan mengevaluasi janjiku padanya, ibu tak akan pernah tahu aku mengingkari janjinya. Tapi, aku hanya ingin menepatinya saja, untuk alasan apa? akupun belum tahu.
Seperti biasa, roti bakar selai stroberi yang masih hangat, kubuat dua susun. Hari ini aku ingin sedikit menambahkan sesuatu untukmu. Sebelum berangkat, kusambangi minimarket terdekat. Membeli satu susu kotak ukuran 1 liter, buah apel dan beberapa makanan ringan. Bolehkan di penjara makan seperti ini?. Kau akan kuiziinkan membaginya dengan temanmu. Entah mengapa hari ini aku begitu menikmatinya. Butuh dua kali naik angkutan umum untuk mencapai tempatmu. Penjara yang apek dan dingin. Penjaga itu hafal betul dengan kehadiranku yang rutin, akhir pekan pukul 10.00. “Ayah aku datang?” bisikku dalam hati. Aku kembali mengetuk jeruji besi dengan cincin murahan yang terpasang di jari tengahku, saat melihat kau masih terbaring, nampak sedang tertidur. Ah, rasanya seperti membangunkan harimau lapar yang tertidur. Kau terbangun, melayangkan tatapan yang dinginnya serasa bisa menimbulkan luka bakar dan tajamnya serasa menimbulkan luka tusuk. Tapi aku tetap diposisiku, mencoba mempertahankan kedudukan.
“Selalu keras kepala, aku tak butuh makanan yang kau bawa, aku juga tak butuh kau datang kemari.” Aku tahu, aku hafal betul gerakan tangan itu. Kau mengucapkannya setiap kehadiranku. Meski selalu mengusirku, kau akan membiarkanku duduk dan menatapmu saja, rasanya setiap saat itu aku hanya menontonmu. Seperti menonton pertunjukkan saja. Jika ibu masih ada, barang tentu ia akan cemas melihat kondisimu yang begitu memprihatinkan, semakin kurus. Tiba-tiba tawamu berderai menyakitkan. Tawa itu pula yang terdengar selepas kau membunuh ibu. “Apakah ayah tak pernah menyesal telah melakukan semua ini padaku dan ibu?” entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Tapi sunyi mencekam. Kombinasi yang sempurna dengan suasana penjara yang suram, gelap. Mengingatkanku akan kegelapan yang mencekik saat kau menyiksaku habis di ruangan kosong rumah kita. Ruang eksekusi, barangkali. Tak pernah terbayangkan akan berapa lama aku bertahan dengan cara seperti ini? aku ingin berhenti bu? aku ingin berhenti pura-pura peduli!, aku ingin berhenti pura-pura mencintai! aku ingin berhenti pura-pura menyayangi ayah!. aku ingin berhenti membuatkan roti untuknya! Aku tak mau lagi memaafkannya?.Aku ingin marah padanya. Aku ingin berhenti saja bu!
Terdengar langkah kakimu yang rapuh, berjalan dengan menyeret kaki kirimu. Semakin dekat, kuberanikan diri mendekati jeruji besi yang memisahkan kita. Hingga tiba-tiba nafas ini terasa sesak tercekat, dahi ini berdenyut semakin cepat. Beberapa penjaga berhamburan mendengar suara benturan tubuhku dengan jeruji besi. Menopang tubuhku yang mulai oleng. Seterusnya hanya hampa dan dingin. Serasa ada badai besar yang menghampaskanku, melewati satu persatu kenangan itu. Menusuk-nusuk sakit, lalu ibu akan selalu datang sebagai kupu-kupu indah yang menenangkan. Tapi seperti itulah kupu-kupu, hanya sesaat, lalu terbang bahagia menjemput kematiannya sendiri. Meninggalkan aku yang mulai harus melewati malam-malam dalam kebusukkan.
“pergi!!” kata-kata itu yang juga menjadi deretan hafalan dalam otakku. Saat anak-anak lain senang menghafal huruf, justru sumpah serapahmu yang bisa kuhafalkan. Mendengung terus, menyakitkan. Malam pertama aku mengenal rasa benci, mempelajari dendam itu kembali terulang. Bogem mentah melayang dari dua arah, ah aku merasa menjadi sansak tinju. Kancing bajuku nyaris terpereteli semua karena cengkeramanmu, dan aku nyaris kehilangan nafas yang tanpa kau cekik pun aku sudah cukup kesulitan bernafas. “Ibu.. aku belum mau mati” rengekku dalam hati, hingga sayup-sayup terdengar langkah berlari. Ah, itu dia. Ibu akan datang melindungiku. Memelukku dan mengatakan “berhenti yah!” lalu tak lama terbangun dipagi hari dengan hiasan luka lebam dimana-mana. Setiap pagi itu aku selalu terbangun dengan tangisan menahan rasa sakit. “aku ben..” ibu menahan tanganku. Ia tak pernah mengizinkanku mengucap satu kata itu “Benci”, bertahun-tahun selalu seperti itu. “Jangan pernah katakan kamu membenci ayahmu nura.., tolong..”
Lalu kapan kisah ini akan selesai? Selama aku bertahan untuk belajar mencintainya, bersabar karenanya dan memaafkan kesalahannya, ternyata memang tak mudah. Ah, aku sudah lelah. Semuanya harus segera berakhir.
Laboratorium penelitian di lantai lima itu masih sepi, hanya beberapa makhluk berbaju putih dan tanpa alas kaki bekerja tekun di pojokkan. Aku sering diizinkan menemani Fitta di laboratorium ini. Tesisnya baru saja selesai, barangkali inilah kali terakhir aku akan duduk disini. Kursi di dekat jendela dan sebuah spektrofotometer berdebu yang sudah rusak selalu menemaniku. Kubersihkan spektrofotometer itu, sebagai ucapan perpisahan. Pagi ini aku akan membersihkan semua, menyelesaikan segala urusannya. Akhir pekan ini aku akan menemuimu, ayah.
“Kamu sakit nur? wajahmu pucat begitu?” Fitta mendekat dan menempelkan tangannya tepat didahiku. “Wah, kamu demam nur, ayo rebahan biar aku buat air hangat dulu ya” Sebenarnya lebih dari cuaca yang menyebabkan badanku terasa menggigil sejak tadi malam. Namun, lebih karena pergolakan batin yang menyesakkan ini. Dadaku terasa sempit. Kucoba merebahkan badan, tapi berjuta bayangan muncul. Mengelilingi, membuat kepalaku terasa berputar dan pening. Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatianku. Ibu datang membawa baskom berisi air hangat, wajahnya pucat pasi. Seolah seluruh kebahagiaannya telah raib dari wajah cantik itu. Aku mengusap pipinya perlahan, mencoba saling menguatkan. “Apa kamu masih sesak nur?” aku hanya mengangguk lemah, disekap selama lebih dari 24 jam benar-benar menguras tenagaku. Aku ingin memeluk ibu, pasti menenangkan rasanya. Namun, sebuah hantaman keras membuat tubuh kurus itu terkapar. Wajah itu terpampang dihadapanku, dingin dan bengis. Ia menggusur kerah baju ibu hingga sobek, mendorongnya ke pojokkan. Menamparnya habis. Aku ingin memeluk ibu, aku ingin melindunginya, tapi tak sedikitpun tubuhku dapat bergerak, mati. Bahkan berteriak pun aku tak mampu. Sumpah serapah itu terasa menakutkan. Amarah terbesarnya sepanjang hidupku. Aku tak mampu melakukan apapun, telingaku tak mendengar apapun, hanya pandangan yang mulai kabur melihat sisa-sisa peristiwa mengerikan itu. “Pembunuh!!” teriakku dalam hati, ia berjalan ke arahku, menggenggam tanganku keras, menjatuhkanku dari tempat tidur dan mencekik leherku hingga lemas. Aku tahu, saat itu aku dan ibu bemar-benar akan mati. Barangkali inilah akhir semua penderitaan kami.
Tapi tiba-tiba kau berlari meninggalkan aku yang sibuk mengais-ngais oksigen untuk bernafas. Ibu disampingku. Aku menangis, takut sekali. “Jangan menangis Nura..” bisikkan itu menenangkanku, ah, ibu masih hidup. Aku memeluknya, namun punggungnya basah, basah oleh darah yang tak berhenti mengalir. Aku ingin berteriak tapi tak ada yang keluar selain tangisan bisu. “Kamu kuat Nura sayang, kamu bisa. Ibu minta satu hal, jangan pernah benci ayahmu. Berusahalah terus untuk mencintai dan menyayangi ayahmu, kamu bisa?” Aku menggeleng, aku tahu aku tak akan mampu melakukannya. Berbohongpun percuma. “Ibu tak peduli apapun jawabanmu, tapi Ibu percaya kamu akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu..” Sebuah pukulan keras membuat Ibu meregang nyawa, sementara aku hanya bisa menangis. Kau kembali mencekik leherku. Ibu, bagaimana bisa aku memenuhi permintaanmu, barangkali sebentar lagi aku akan menyusulmu pergi. Namun diluar dugaan sirene yang berbunyi diluar memaksamu melepaskan cengkeraman dileherku dan pergi.
“Nura? Nura? kamu kenapa?” Fitta panik demi melihatku mencekik leherku sendiri. Fitta berusaha keras melepaskannya hingga aku menyerah dan terduduk lemas. Ia menangis. Tak pernah kulihat ia menangis sebelumnya. Aku menatap ke sekeliling. Baskom air panas terjatuh. Aku menatap Fitta penuh tanda tanya, Ia menggamit tanganku. Aku menyerah dan membiarkan mataku terlelap. Ah, aku ingat. Besok akhir pekan yang kunantikan itu. Aku akan menemuimu, Ayah.
Aku berjalan gontai, Fitta masih terlelap. Aku tak ingin ia tahu kepergianku. Seperti biasa, berbekal roti bakar stroberi kesukaanmu. Hari ini terasa ringan. Aku akan menghentikan semuanya, aku akan menuruti keinginanmu. Aku tak akan lagi menemui di penjara. Aku tak akan lagi membuatkan roti bakar untukmu. Aku tak akan lagi membebanimu.
Ragu-ragu aku melangkah, aku yakin ini di luar jam besuk. Tapi, harus sekarang juga, tak akan ada waktu lagi. Seorang penjaga yang baru kulihat berdiri memperhatikan kehadiranku. “Ada keperluan apa mba?” aku terdiam. Ah, ia tak tahu aku tak bisa mendengar apapun yang ia katakan. Ah, kemana penjaga yang biasa. Ia akan mengerti apa yang kukatakan. Kehadiran rutinku tiap minggu membuatnya sedikit banyak mengerti dan bisa menggunakan bahasa isyarat.
Aku mengeluarkan secarik kertas dan mengatakan ingin bertemu dengan ayah, mendesak. Sial. Penjaga baru itu tak mengizinkanku masuk. Aku mencoba memaksanya, meski tak memberikan pengaruh apapun. Penjaga itu justru semakin kebingungan. Perselisihan kami terdengar oleh beberapa penjaga lain. Salah seorang diantara yang keluar itu, ada yang mengenaliku. “Ayah? aku ingin menemui ayah” aku tersenyum padanya. Ia mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia mengajakku duduk. “Mana penjaga yang biasa?” tanyaku sedikt berbasa-basi dan menenangkan keadaan. Penjaga itu memegang pundakku seolah meminta pengertianku. “Ada apa?”
“Penjaga yang biasa itu sudah meninggal, baru tadi malam” aku mengungkapkan turut prihatin. Tapi aku tak bisa terlalu lama, aku harus segera bertemu ayah. “Aku mau bertemu ayah?” Ia mengangguk mantap. “Nura, kamu harus tahu ini. Semalam, ayahmu dan beberapa tahanan lain telah melarikan diri, ayahmu yang membunuh penjaga itu” Duniaku kembali terguncang. Aku ingin berteriak lagi. Meski yang terdengar hanya tangisan bisu. Aku ingin bertanya bagaimana bisa, tapi merasa sudah tak berguna lagi.
Langkahku semakin tak menentu. Kakiku sudah tak kuat lagi melangkah. Sebuah ayunan di taman yang sepi. Seluruh rencanaku gagal sudah. Padahal hari ini aku telah ingin mengakhiri semuanya. Bukankah semuanya harus selesai malam ini. Tiba-tiba aku merasa bodoh, ingin menangis tapi sudah tak bisa. Susah payah kuambil racun itu, dan kuoleskan diantara roti bakar kesukaanmu. Aku hanya ingin kau memakannya, lalu aku tak akan lagi menemuimu, aku tak akan lagi mengganggumu. Sia-sia kukumpulkan keberanian untuk melakukan semua ini. Sekarang kau entah ada dimana. Berada diluar. Bebas.
Aku tak lagi aman, kau tentu bisa saja muncul tiba-tiba. Lalu apa yang akan kau lakukan jika bertemu denganku. tentu kau akan membunuhku. Ah, dunia tak lagi aman untukku. Kugenggam erat roti bakar itu, nyaris hancur. Tidak, semua ini harus tetap berakhir. Tubuhku bergetar hebat. Aku harus segera memutuskan. Harus berakhir. Tubuhku bergetar semakin hebat, seolah sisa tenagaku berhamburan.
Aku terjatuh dari ayunan, rebah ditanah. Aku menarik nafas panjang. Telah kuputuskan. Dengan sisa tenaga yang ada, serpihan roti bakar yang hancur. Aku memakannya habis. Ayah..
Ayah…
Bisikkanku tenggelam dalam kebisuan yang semakin mendalam. Semua telah berakhir sesuai keinginanmu. Kau menang. Ibu..
Ibu..
Maafkan aku karena tak bisa memenuhi keinginanmu. Aku tak pernah bisa mencintai dan menyayanginya bu. Maafkan Aku. Nafasku terasa semakin sesak, lebih sesak dari segala siksaan yang kau lakukan. Tapi, aku tak lagi takut. Ibu, aku benar-benar ingin menemui kematianku hari ini.
selapis roti untuk kepergian ayah
Apakah aku masih hidup?. Ah, pasti aku masih hidup karena jika tidak pasti bukan disinilah tempatnya. Meski aku belum pernah melihatnya tapi aku yakin tempat ini bukanlah alam kubur, neraka apalagi surga. Ada bayangan hitam menghalangi pandanganku. Apakah itu malaikat maut? apakah ia akan menjemputku sekarang?. Apakah aku tak lagi diberi kesempatan?. Bayangan hitam itu semakin mendekat, menggenggam tanganku yang berhiaskan gelang identitas bertuliskan “Nura” nama kecilku. Genggaman tangan itu dingin seperti tak setetes pun darah mengalir padanya. Genggaman itu serasa membekukkan tanganku. Aku tak lagi bisa bergerak, aku tak bisa menghindar apalagi berlari. Bayangan itu mengenggam erat tanganku nyaris meremukkan tulang pergelangan tangan. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Tak ada satupun suara yang keluar selain “ah” dan “uh”. Seolah tenagaku telah raib. Aku kehilangan keseimbangan begitu melihat pemandangan dihadapanku.
Tubuhku bergetar hebat, takut sekali. Hingga kejutan keras merasuki tubuhku, hangat, serasa darah kembali mengalir. Bayangan hitam itu menghilang, telah berganti bayangan putih dokter dan para suster. Ada tiang kurus disampingku, menggantungkan tabung infus yang mendikte tetes demi tetes kehidupanku. Ternyata aku benar-benar masih hidup. Tak membutuhkan waktu lama sebelum suster memindahkanku ke ruang rawat. Berbagai wajah datang silih berganti. Tersenyum dan prihatin. Tapi aku tak lagi peduli, karena wajah yang kucari itu tak akan pernah ada, tak akan pernah bisa kulihat lagi. Terbersit perasaan menyesal, mengapa aku masih hidup?
Aku terbangun dan hari-hari itu telah berlalu sedemikian cepat, serasa hanya tertidur beberapa jam saja. Bunga dalam vas itu telah berganti rupa menjadi bunga yang lebih segar, ada yang menggantinya. Mungkin beginilah tradisinya, bunga diganti saat pasien kamar ini juga berganti?. Aku harus segera meninggalkan tempat memuakkan ini, meski setelah semua kejadian itu akan membuat keadaan di luar sana lebih memuakkan. Aku berjalan melintasi rutinitas yang mendadak terasa begitu asing bagiku. Tiba-tiba aku merasa menjadi salah seorang dari pemuda yang beratus-ratus tahun tertidur dalam gua lalu terbangun dan mendapati dunia telah sedemikian berubah. Apakah telah sedemikian lama aku tertidur?.
Batu nisan dihadapanku hangat tertimpa cahaya matahari pagi. Wajah yang kunanti itu telah terbenam disini, meninggalkanku dengan berbagai urusan dunia yang kini harus kuselesaikan sendiri. Ah, kita bahkan belum sempat saling mengucapkan salam perpisahan, kau hanya sempat membisikkan keinginan terakhirmu untukku. Meski aku tahu benar apa keinginanmu, keinginan yang rasanya sampai kapanpun tak akan pernah bisa kuwujudkan. Maafkan aku bu, karena sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mencintai ayah seperti ibu mencintainya. Aku tak akan pernah bisa melakukan lebih dari yang kau lakukan untuknya. Aku tak akan bisa bersabar lebih dari kesabaranmu menghadapinya. Aku tak akan pernah bisa mencintainya lebih dari cintamu padanya.
Kau datang saat usiaku genap delapan tahun, hadiah yang terindah bagiku. Jarang sekali ada anak yang menerima hadiah seorang ayah di hari ulang tahunnya bukan. Sejak kecil aku selalu menanyakan kemana kau pergi, tapi Ibu selalu mengatakan bahwa kau pergi jauh untuk bekerja. Aku menerima saja. Tapi, hadiah itu tak seindah yang kubayangkan. Kau selalu menolak permintaanku untuk jalan-jalan di akhir pekan, bahkan hanya sekadar bermain dan menemaniku belajar pun, kau tak pernah ada. Kau selalu pergi setiap hari kecuali di akhir pekan, entah untuk alasan apa.
Akhir pekan itu akan selalu jadi hari yang istimewa untuk kami, untuk ibu tepatnya, karena hanya di akhir pekanlah kau akan datang. Seandainya kau tahu, Ibu selalu menyambut kedatanganmu dengan cara terbaik, meski ia tahu betapa kau tak akan pernah membalas apapun atas pengorbanannya. Sementara bagiku, akhir pekan hanyalah masa-masa sulit diantara sekian kebahagiaanku bersama Ibu.
Setiap akhir pekan Ibu akan pergi bekerja ke tempat sahabatnya dan menginap selama dua hari, kau tentu tak memberikan sepeser uangmu pada kami. Kau hanya datang sebagai parasit, menumpang dan menyulitkan. Aku harus bangun sepagi mungkin, menyiapkan air hangat untuk kau mandi, menyiapkan sarapan hingga makan siang dan makan malam. Maka selama dua hari itu menyisakan aku dan dirimu, dirumah sesak ini, akan selalu menjadi masa-masa penantian yang menegangkan, karena setiap kesalahan ada bayarannya sendiri. Seperti pagi itu. Kau terbangun lebih awal karena panci yang tak sengaja kujatuhkan, menimpa beberapa alat rumah tangga yang lain, mengusikmu. Kau tak pernah banyak bicara, hanya melayangkan tatapan dingin itu. Genggaman tanganmu yang kuat menggusurku, dan membiarkanku seharian terkunci di ruangan berukuran 1×2 m tanpa jendela dan lampu. Aku takut, sangat takut.
Sejak kecil aku tak bisa berada dalam kegelapan, kesesakan akan merasuk dan mencekik penuh kekuatan. Selama lebih dari 24 jam kau mengurungku. Aku berteriak memohon kepadamu sekuat yang kubisa tapi tak ada yang berubah, kegelapan itu tetap meliputiku. Saat itu aku berfikir mungkin aku akan segera meregang nyawa. Ah, kau ingin membunuhku secara perlahan. Dalam kegelapan itulah, pertama kalinya aku mengenal rasa benci dan dendam. Hingga sayup-sayup langkah tergesa itu terdengar. Perlahan pintu itu terbuka dan serasa oksigen membanjiri saluran pernafasanku, menenangkan.
Ibu datang dan memelukku, aku ingin memanggil namanya namun tak ada satupun yang keluar. Ibu menatap mataku, bibirnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu, namun tak ada yang kudengar. Angin serasa mati sehingga bunyipun tak bisa merambat. “Ibu?” aku merengek dalam hati. “Nura? kamu dengar ibu sayang?” aku tak mengerti. Ibu terus mengelus kedua telingaku. Aku tak bisa berbicara, aku tak bisa mendengar apapun. Air mata hangat membanjiri pipiku, kau berdiri tepat dibelakangan Ibu, dengan wajah yang tak pernah berubah. Selalu dingin. Aku membencinya, namun tak bisa mengatakan apa-apa.
Tapi, aku mencoba belajar memaafkan masa laluku sendiri. Entah siapa yang patut dipersalahkan dan harus bertanggungjawab atas masalah ini. Entah siapa harus memaafkan siapa. Tapi satu hal yang pasti, ibu selalu memintaku untuk belajar memaafkan. Belajar memaafkanmu jika dalam seminggu itu tak sekalipun kau pulang. Belajar memaafkanmu jika dengan sengaja tanganmu mengayunkan tamparan yang bagiku terasa lebih menyakitkan hati dibanding menyakitkan pipi ini. Belajar memaafkanmu jika sumpah serapah mengawal setiap aktivitasku. Bertahun-tahun aku bertahan dengan cara seperti ini, mungkin karena keyakinan akan cintaku sendiri.
Sering aku bertanya apakah kau tak lelah mempertanyakan kesungguhanku. Apakah kau tak pernah lelah mengujiku. Aku tak pernah membutuhkanmu untuk memberikanku apapun, bahkan sejumput dari kebahagiaanpun aku tak memerlukannya darimu. Toh, aku bahagia dengan caraku sendiri, bahagia dengan selalu belajar memaafkanmu. Aku hanya membutuhkan pengakuanmu. Pengakuanmu bahwa aku dan ibu ada, tapi kau selalu membutakan dirimu sendiri.
Penjara itu tak sedingin tatapan mata yang kau layangkan padaku. Dia mati. benar?” katanya dengan bahasa isyarat. Sejak peristiwa pengurungan itu, aku tak lagi bisa bicara dan mendengar. Lalu Ibu mengajariku menggunakan bahasa isyarat. Ibu juga mengajariku untuk terus memaafkan, ibu mengajariku untuk terus mencintai dan menjagamu. Tapi pertanyaan itu begitu menusuk tajam, menghancurkan pertahanan pertamaku, sekian lama aku berusaha untuk tak bersedih karenamu. Aku hanya mengangguk seolah semua yang terjadi adalah biasa saja. “Apa kau mau ikut dia? Mati.” tawamu meledak menggema diruangan sempit itu, Barangkali jika aku masih bisa mendengar, suara itu akan memekakkan telingaku. sekali lagi tenagaku serasa raib, aku terduduk dipojokkan. Aku harus segera pergi.
Fitta menahan tanganku, nampak tak yakin bahwa aku akan mengunjungimu lagi. Sudah seminggu ini aku berbagi tempat dengan Fitta, sahabatku di kampus dulu. Aku mengangguk tegas, aku harus melakukannya untuk Ibu. Saat pertama kau datang dalam kehidupan kami, Ibu mengajariku untuk membuat roti bakar. “Ayahmu sangat suka roti bakar selai stroberi buatan Ibu, jadi kau harus mulai belajar membuatnya supaya kau bisa menggantikan ibu kalau ibu sudah tak ada..” Saat itu aku merasa betapa ibu akan pergi jauh. Aku tak pernah membayangkan bagaimana jika suatu saat aku harus benar-benar kehilangan Ibu, karena dia lah satu-satunya alasan aku bisa bertahan untuk mencintaimu.
“Kalau ayah menyukai roti bakar buatan Ibu, kenapa dia membenci kita bu?” tanyaku suatu ketika. Ia membelaiku penuh perhatian. “Jangan pernah kamu tanyakan mengapa ia membenci kita? dan mengapa kita harus mencintainya, jika dengan cara ini ibu bisa bertahan untuk mencintai ayahmu, maka kau pun pasti bisa” Terkadang aku merasa sangat takut, Ibu terlalu percaya diri bahwa aku bisa melakukan semua yang telah ia lakukan. Ibu terlalu percaya diri bahwa aku bisa menggantikan posisinya. “Kamu yakin mau pergi ra, biar saya ikut ya?” Aku menggeleng kuat, aku yakin diriku sendiri sudah cukup akan mengusik kenyamananmu. Aku pamit, membawa dua lapis roti bakar selai stroberi kesukaanmu.
Aku merasa seperti anak burung yang tersiram hujan. Kuyup dan mengkerut. Takut-takut aku berjalan. Inilah kali kedua aku membesukmu. Seorang penjaga mengantar dan mengawal pertemuanku denganmu, berbataskan jeruji besi yang dingin. Aku mengetuk sel besi dengan cincin murahan untuk memanggilmu yang terbaring di kasur. Kau menoleh juga. Aku menunjukkan roti bakar buatanku. Satu langkahmu berhasil menyurutkanku beberapa langkah. Ah, rasanya seperti berhadapan dengan harimau yang kelaparan. “Pulang!” sentakmu sambil mengibaskan tanganmu tanda menyuruhku untuk segera pergi, kau penuh kendali. Gentar. Tapi, tak mungkin, aku sudah sampai sejauh ini. Roti bakar buatanku? tak boleh sia-sia. Kau harus memakannya. “Heh? pulang!” sentakmu lagi. Aku mendekat dan menyodorkan roti dan beberapa buah jeruk. Kau tetap mengabaikanku. Tapi begitulah ibu, maka semua ini harus kulakukan. Kata ibu, inilah belajar mencintai dan menyayangimu. Ya, sekali lagi aku diajarkan untuk memaafkan perlakuanmu padaku. Tak apa..aku lebih pandai memaafkan daripada mencintai. Jadi, aku harus lebih banyak belajar. “Jangan pernah datang lagi.! dasar bisu! tuli!” cacinya. Rasanya hati ini sakit sekali melihatnya. Sudahlah, Ibu bilang ia tak pernah bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Lelah kaki ini melangkah pergi.
Meski begitu, semua berlalu bagai rutinitas yang tak akan terganti. Akhir pekan yang sama. Dapur yang sama. Alat pembuat roti bakar yang sama. Jalanan yang sama. Penjara dan penjaga yang sama. Sudah dua bulan berlalu sejak pertama kalinya aku menjengukmu, berarti ini akan jadi kali ke sembilan aku datang. Namun, belum ada yang berubah dalam hati ini. Setiap kaki ini menapak lantai penjara yang dingin, selalu saja mekanisme yang sama berulang. Hati ini mencoba mempersembahkan kasih sayang, lalu kau menjatuhkannya, aku akan sedih lalu aku akan belajar memaafkan. Tanpa benar-benar ada kasih sayang yang begitu tulus datang. Bagaimana bisa datang? jika setiap aku tertidur, maka mimpi itulah yang selalu hadir. Mimpi tentang hari-hari yang penuh ketidakpastian itu. Bagaimana bisa datang? jika setiap kaki ini melangkah ke dapur maka yang terasa adalah kaki-kaki yang rapuh menembus panas, hujan dan rela menunggu berlama-lama hanya demi mengulurkan tangan memberikan roti bakar stroberi kesukaanmu. Bagaimana bisa datang? jika setiap diri ini menunggu roti yang panas terbakar, maka yang hadir adalah perasaan kecewa, menumpuk dan terbakar, memenuhi hati dan berkembang menjadi rasa benci setiap kali melihat tanganmu terulur keluar jendela mobil dan melemparkan roti bakar itu ditikungan pertama setiap kepergianmu. Bagaimana bisa datang? jika setiap tangan ini bergerak mengoleskan selai stroberi kesukaanmu, yang terbayang hanyalah darah segar yang mengalir dari punggung ibu yang kau jadikan sasaran pisau terasah tajam. Kau memang pembunuh, dan aku harus mencintai dan menyayangi seorang pembunuh?. Ah ibu, kau benar-benar terlalu percaya diri meninggalkanku untuk urusan ini.
“Hari ini besuk lagi? aku heran mengapa kau belum juga menyerah padahal dia selalu melarangmu datang?” Fitta masih selalu protes, sekali pernah ia ikut membesukmu, dan kau mengamuk hebat mengusir kami. Sejak saat itu ia kapok memaksa untuk menemaniku. Aku mengangguk tegas. Ya, mungkin aku telah sedemikian bodoh mau melakukan ini. Ibu sudah tak ada, tak ada seorangpun yang akan mengevaluasi janjiku padanya, ibu tak akan pernah tahu aku mengingkari janjinya. Tapi, aku hanya ingin menepatinya saja, untuk alasan apa? akupun belum tahu.
Seperti biasa, roti bakar selai stroberi yang masih hangat, kubuat dua susun. Hari ini aku ingin sedikit menambahkan sesuatu untukmu. Sebelum berangkat, kusambangi minimarket terdekat. Membeli satu susu kotak ukuran 1 liter, buah apel dan beberapa makanan ringan. Bolehkan di penjara makan seperti ini?. Kau akan kuiziinkan membaginya dengan temanmu. Entah mengapa hari ini aku begitu menikmatinya. Butuh dua kali naik angkutan umum untuk mencapai tempatmu. Penjara yang apek dan dingin. Penjaga itu hafal betul dengan kehadiranku yang rutin, akhir pekan pukul 10.00. “Ayah aku datang?” bisikku dalam hati. Aku kembali mengetuk jeruji besi dengan cincin murahan yang terpasang di jari tengahku, saat melihat kau masih terbaring, nampak sedang tertidur. Ah, rasanya seperti membangunkan harimau lapar yang tertidur. Kau terbangun, melayangkan tatapan yang dinginnya serasa bisa menimbulkan luka bakar dan tajamnya serasa menimbulkan luka tusuk. Tapi aku tetap diposisiku, mencoba mempertahankan kedudukan.
“Selalu keras kepala, aku tak butuh makanan yang kau bawa, aku juga tak butuh kau datang kemari.” Aku tahu, aku hafal betul gerakan tangan itu. Kau mengucapkannya setiap kehadiranku. Meski selalu mengusirku, kau akan membiarkanku duduk dan menatapmu saja, rasanya setiap saat itu aku hanya menontonmu. Seperti menonton pertunjukkan saja. Jika ibu masih ada, barang tentu ia akan cemas melihat kondisimu yang begitu memprihatinkan, semakin kurus. Tiba-tiba tawamu berderai menyakitkan. Tawa itu pula yang terdengar selepas kau membunuh ibu. “Apakah ayah tak pernah menyesal telah melakukan semua ini padaku dan ibu?” entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Tapi sunyi mencekam. Kombinasi yang sempurna dengan suasana penjara yang suram, gelap. Mengingatkanku akan kegelapan yang mencekik saat kau menyiksaku habis di ruangan kosong rumah kita. Ruang eksekusi, barangkali. Tak pernah terbayangkan akan berapa lama aku bertahan dengan cara seperti ini? aku ingin berhenti bu? aku ingin berhenti pura-pura peduli!, aku ingin berhenti pura-pura mencintai! aku ingin berhenti pura-pura menyayangi ayah!. aku ingin berhenti membuatkan roti untuknya! Aku tak mau lagi memaafkannya?.Aku ingin marah padanya. Aku ingin berhenti saja bu!
Terdengar langkah kakimu yang rapuh, berjalan dengan menyeret kaki kirimu. Semakin dekat, kuberanikan diri mendekati jeruji besi yang memisahkan kita. Hingga tiba-tiba nafas ini terasa sesak tercekat, dahi ini berdenyut semakin cepat. Beberapa penjaga berhamburan mendengar suara benturan tubuhku dengan jeruji besi. Menopang tubuhku yang mulai oleng. Seterusnya hanya hampa dan dingin. Serasa ada badai besar yang menghampaskanku, melewati satu persatu kenangan itu. Menusuk-nusuk sakit, lalu ibu akan selalu datang sebagai kupu-kupu indah yang menenangkan. Tapi seperti itulah kupu-kupu, hanya sesaat, lalu terbang bahagia menjemput kematiannya sendiri. Meninggalkan aku yang mulai harus melewati malam-malam dalam kebusukkan.
“pergi!!” kata-kata itu yang juga menjadi deretan hafalan dalam otakku. Saat anak-anak lain senang menghafal huruf, justru sumpah serapahmu yang bisa kuhafalkan. Mendengung terus, menyakitkan. Malam pertama aku mengenal rasa benci, mempelajari dendam itu kembali terulang. Bogem mentah melayang dari dua arah, ah aku merasa menjadi sansak tinju. Kancing bajuku nyaris terpereteli semua karena cengkeramanmu, dan aku nyaris kehilangan nafas yang tanpa kau cekik pun aku sudah cukup kesulitan bernafas. “Ibu.. aku belum mau mati” rengekku dalam hati, hingga sayup-sayup terdengar langkah berlari. Ah, itu dia. Ibu akan datang melindungiku. Memelukku dan mengatakan “berhenti yah!” lalu tak lama terbangun dipagi hari dengan hiasan luka lebam dimana-mana. Setiap pagi itu aku selalu terbangun dengan tangisan menahan rasa sakit. “aku ben..” ibu menahan tanganku. Ia tak pernah mengizinkanku mengucap satu kata itu “Benci”, bertahun-tahun selalu seperti itu. “Jangan pernah katakan kamu membenci ayahmu nura.., tolong..”
Lalu kapan kisah ini akan selesai? Selama aku bertahan untuk belajar mencintainya, bersabar karenanya dan memaafkan kesalahannya, ternyata memang tak mudah. Ah, aku sudah lelah. Semuanya harus segera berakhir.
Laboratorium penelitian di lantai lima itu masih sepi, hanya beberapa makhluk berbaju putih dan tanpa alas kaki bekerja tekun di pojokkan. Aku sering diizinkan menemani Fitta di laboratorium ini. Tesisnya baru saja selesai, barangkali inilah kali terakhir aku akan duduk disini. Kursi di dekat jendela dan sebuah spektrofotometer berdebu yang sudah rusak selalu menemaniku. Kubersihkan spektrofotometer itu, sebagai ucapan perpisahan. Pagi ini aku akan membersihkan semua, menyelesaikan segala urusannya. Akhir pekan ini aku akan menemuimu, ayah.
“Kamu sakit nur? wajahmu pucat begitu?” Fitta mendekat dan menempelkan tangannya tepat didahiku. “Wah, kamu demam nur, ayo rebahan biar aku buat air hangat dulu ya” Sebenarnya lebih dari cuaca yang menyebabkan badanku terasa menggigil sejak tadi malam. Namun, lebih karena pergolakan batin yang menyesakkan ini. Dadaku terasa sempit. Kucoba merebahkan badan, tapi berjuta bayangan muncul. Mengelilingi, membuat kepalaku terasa berputar dan pening. Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatianku. Ibu datang membawa baskom berisi air hangat, wajahnya pucat pasi. Seolah seluruh kebahagiaannya telah raib dari wajah cantik itu. Aku mengusap pipinya perlahan, mencoba saling menguatkan. “Apa kamu masih sesak nur?” aku hanya mengangguk lemah, disekap selama lebih dari 24 jam benar-benar menguras tenagaku. Aku ingin memeluk ibu, pasti menenangkan rasanya. Namun, sebuah hantaman keras membuat tubuh kurus itu terkapar. Wajah itu terpampang dihadapanku, dingin dan bengis. Ia menggusur kerah baju ibu hingga sobek, mendorongnya ke pojokkan. Menamparnya habis. Aku ingin memeluk ibu, aku ingin melindunginya, tapi tak sedikitpun tubuhku dapat bergerak, mati. Bahkan berteriak pun aku tak mampu. Sumpah serapah itu terasa menakutkan. Amarah terbesarnya sepanjang hidupku. Aku tak mampu melakukan apapun, telingaku tak mendengar apapun, hanya pandangan yang mulai kabur melihat sisa-sisa peristiwa mengerikan itu. “Pembunuh!!” teriakku dalam hati, ia berjalan ke arahku, menggenggam tanganku keras, menjatuhkanku dari tempat tidur dan mencekik leherku hingga lemas. Aku tahu, saat itu aku dan ibu bemar-benar akan mati. Barangkali inilah akhir semua penderitaan kami.
Tapi tiba-tiba kau berlari meninggalkan aku yang sibuk mengais-ngais oksigen untuk bernafas. Ibu disampingku. Aku menangis, takut sekali. “Jangan menangis Nura..” bisikkan itu menenangkanku, ah, ibu masih hidup. Aku memeluknya, namun punggungnya basah, basah oleh darah yang tak berhenti mengalir. Aku ingin berteriak tapi tak ada yang keluar selain tangisan bisu. “Kamu kuat Nura sayang, kamu bisa. Ibu minta satu hal, jangan pernah benci ayahmu. Berusahalah terus untuk mencintai dan menyayangi ayahmu, kamu bisa?” Aku menggeleng, aku tahu aku tak akan mampu melakukannya. Berbohongpun percuma. “Ibu tak peduli apapun jawabanmu, tapi Ibu percaya kamu akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu..” Sebuah pukulan keras membuat Ibu meregang nyawa, sementara aku hanya bisa menangis. Kau kembali mencekik leherku. Ibu, bagaimana bisa aku memenuhi permintaanmu, barangkali sebentar lagi aku akan menyusulmu pergi. Namun diluar dugaan sirene yang berbunyi diluar memaksamu melepaskan cengkeraman dileherku dan pergi.
“Nura? Nura? kamu kenapa?” Fitta panik demi melihatku mencekik leherku sendiri. Fitta berusaha keras melepaskannya hingga aku menyerah dan terduduk lemas. Ia menangis. Tak pernah kulihat ia menangis sebelumnya. Aku menatap ke sekeliling. Baskom air panas terjatuh. Aku menatap Fitta penuh tanda tanya, Ia menggamit tanganku. Aku menyerah dan membiarkan mataku terlelap. Ah, aku ingat. Besok akhir pekan yang kunantikan itu. Aku akan menemuimu, Ayah.
Aku berjalan gontai, Fitta masih terlelap. Aku tak ingin ia tahu kepergianku. Seperti biasa, berbekal roti bakar stroberi kesukaanmu. Hari ini terasa ringan. Aku akan menghentikan semuanya, aku akan menuruti keinginanmu. Aku tak akan lagi menemui di penjara. Aku tak akan lagi membuatkan roti bakar untukmu. Aku tak akan lagi membebanimu.
Ragu-ragu aku melangkah, aku yakin ini di luar jam besuk. Tapi, harus sekarang juga, tak akan ada waktu lagi. Seorang penjaga yang baru kulihat berdiri memperhatikan kehadiranku. “Ada keperluan apa mba?” aku terdiam. Ah, ia tak tahu aku tak bisa mendengar apapun yang ia katakan. Ah, kemana penjaga yang biasa. Ia akan mengerti apa yang kukatakan. Kehadiran rutinku tiap minggu membuatnya sedikit banyak mengerti dan bisa menggunakan bahasa isyarat.
Aku mengeluarkan secarik kertas dan mengatakan ingin bertemu dengan ayah, mendesak. Sial. Penjaga baru itu tak mengizinkanku masuk. Aku mencoba memaksanya, meski tak memberikan pengaruh apapun. Penjaga itu justru semakin kebingungan. Perselisihan kami terdengar oleh beberapa penjaga lain. Salah seorang diantara yang keluar itu, ada yang mengenaliku. “Ayah? aku ingin menemui ayah” aku tersenyum padanya. Ia mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia mengajakku duduk. “Mana penjaga yang biasa?” tanyaku sedikt berbasa-basi dan menenangkan keadaan. Penjaga itu memegang pundakku seolah meminta pengertianku. “Ada apa?”
“Penjaga yang biasa itu sudah meninggal, baru tadi malam” aku mengungkapkan turut prihatin. Tapi aku tak bisa terlalu lama, aku harus segera bertemu ayah. “Aku mau bertemu ayah?” Ia mengangguk mantap. “Nura, kamu harus tahu ini. Semalam, ayahmu dan beberapa tahanan lain telah melarikan diri, ayahmu yang membunuh penjaga itu” Duniaku kembali terguncang. Aku ingin berteriak lagi. Meski yang terdengar hanya tangisan bisu. Aku ingin bertanya bagaimana bisa, tapi merasa sudah tak berguna lagi.
Langkahku semakin tak menentu. Kakiku sudah tak kuat lagi melangkah. Sebuah ayunan di taman yang sepi. Seluruh rencanaku gagal sudah. Padahal hari ini aku telah ingin mengakhiri semuanya. Bukankah semuanya harus selesai malam ini. Tiba-tiba aku merasa bodoh, ingin menangis tapi sudah tak bisa. Susah payah kuambil racun itu, dan kuoleskan diantara roti bakar kesukaanmu. Aku hanya ingin kau memakannya, lalu aku tak akan lagi menemuimu, aku tak akan lagi mengganggumu. Sia-sia kukumpulkan keberanian untuk melakukan semua ini. Sekarang kau entah ada dimana. Berada diluar. Bebas.
Aku tak lagi aman, kau tentu bisa saja muncul tiba-tiba. Lalu apa yang akan kau lakukan jika bertemu denganku. tentu kau akan membunuhku. Ah, dunia tak lagi aman untukku. Kugenggam erat roti bakar itu, nyaris hancur. Tidak, semua ini harus tetap berakhir. Tubuhku bergetar hebat. Aku harus segera memutuskan. Harus berakhir. Tubuhku bergetar semakin hebat, seolah sisa tenagaku berhamburan.
Aku terjatuh dari ayunan, rebah ditanah. Aku menarik nafas panjang. Telah kuputuskan. Dengan sisa tenaga yang ada, serpihan roti bakar yang hancur. Aku memakannya habis. Ayah..
Ayah…
Bisikkanku tenggelam dalam kebisuan yang semakin mendalam. Semua telah berakhir sesuai keinginanmu. Kau menang. Ibu..
Ibu..
Maafkan aku karena tak bisa memenuhi keinginanmu. Aku tak pernah bisa mencintai dan menyayanginya bu. Maafkan Aku. Nafasku terasa semakin sesak, lebih sesak dari segala siksaan yang kau lakukan. Tapi, aku tak lagi takut. Ibu, aku benar-benar ingin menemui kematianku hari ini.
Langganan:
Postingan (Atom)